Seorang pilot sipil Amerika bernama
Kenneth Arnold dalam penerbangannya melintasi wilayah negara bagian Washington
pada 24 Juni 1947 melihat sejumlah pesawat yang semula dikiranya pesawat
tempur. Namun ia kemudian sadar bahwa apa yang dilihatnya bukan pesawat biasa
karena kecepatannya, menurut perhitungannya sekitar 1300 mph. Ia berusaha
melukiskan pengelihatannya; ia berkata: “seperti piring terbang rendah di atas
permukaan air dengan kecepatan tinggi”. Inilah pertama kali istilah piring
terbang (flying soucer) dipergunakan untuk wahana antariksa tak dikenal.
Laporan penampakan seperti yang dilihat Arnold bukanlah yang pertama
kali. Salah satu catatan awal penampakan wahana antariksa tak dikenal muncul
pada tahun 1254 oleh biarawan Saint Alban, Inggris. Dan sejak itu ratusan
penampakan diseluruh dunia terus bermunculan, baik oleh perseorangan maupun
kelompok orang dan dari berbagai kalangan. Tentu kalian pernah mendengar
istilah UFO yaitu singkatan dari Unidentified Flying Object atau “Benda
Terbang Tak Dikenal”. Penampakan – penampakan diatas kemudian sering
diistilahkan melihat UFO, atau dikunjungi oleh UFO. Cerita UFO ini beragam,
mulai dari yang hanya melihat kerlap kerlip obyek terbang bercahaya dilangit
malam, ada yang merasa pernah melihat makhluk itu mendarat di Bumi bahkan konon
ada yang pernah diculik oleh mereka. Semua atau sebagian laporan itu bisa benar
atau bisa sensasi belaka atau sekadar kesalahan menafsir penglihatan saja. Apa
yang penting kemudian dengan atau tanpa adanya penampakan – penampakan adalah
pertanyaan “Apakah di luar sana ada makhluk hidup, mungkin cerdas dan kemudian
memiliki teknologi tinggi untuk melakukan perjalanan angkasa luar?”.
Pertanyaan ini sangat logis dan manusiawi.
Logis karena memang posisi Bumi yang tidak seistimewa yang dipikirkan
Aristoteles dengan paham geosentrisnya tentulah mengherankan bila manusia
menjadi sebuah keistimewaan di Alam Semesta dari sisi keberadaannya. Manusiawi,
karena manusia adalah makhluk sosial yang terpatri dalam intelektualitasnya
bahwa mustahil rasanya manusia tercipta dalam kesendirian di Alam Semesta yang
demikian luasnya. Buktinya cerita rakyat, lukisan – lukisan dalam gua sampai
kepada legenda kuno hampir semua bangsa senantiasa melibatkan peranan makhluk –
makhluk luar Bumi apakah dalam bentuk dewa – dewa atau kepercayaan semisal
Gilgamesh pada suku Maya.
Di jaman modern seperti sekarangpun, kita
juga punya cerita yang tidak jauh berbeda semisal “War of the Worlds”
karya George Orwell yang mengisahkan secara ekstrim suatu invasi makhluk asing
ke Bumi atau kisah fiksi ilmiah tentang perjalanan luar angkasa dalam film “Alien”
yang sempat muncul dalam empat seri.
Bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Ilmu
pengetahuan yang senantiasa berbasis bukti ilmiah sedikit memberi ruang bagi
terjawabnya misteri ini. Kalangan ilmuwan masih skeptis terhadap “kunjungan
istimewa” ini, karena dua sebab; Pertama, sejumlah besar laporan tidak dapat
diabadikan sebagai bukti. Jikapun berhasil diabadikan banyak kesaksian yang
meragukan bahwa foto – foto bukti sebagai hasil rekayasa atau kesalahan
penafsiran (human eror). Kedua, skeptisisme para ilmuwan dilandasi oleh
bukti ilmiah yang muncul dari berbagai penelitian resmi yang menunjukkan
kecilnya peluang menemukan bentuk kehidupan di luar Bumi, sekalipun dalam
bentuknya yang paling sederhana. Kalian pernah mendengar ekspedisi Viking dan
Voyager milik Amerika Serikat ataupun program SETI. Itu semua merupakan upaya
ilmiah mencari jawaban atas misteri ini.
Alasan ketiga dan ini yang terpenting.
Pemikiran sederhana bahwa sejarah 3.5 miliar tahun keberlangsungan kehidupan di
Bumi (Usia Bumi itu sendiri diperkirakan sekitar 5 milyar tahun) dari sejak
terciptanya planet ini sampai munculnya kehidupan multi cellular. Bandingkan
dengan perkiraan usia Alam Semesta ini yang sekitar 12 milyar tahun. Jika saja
tahapan evolusi sebagaimana yang terjadi di Bumi juga secara seragam dan
paralel terjadi entah dipelosok Alam Semesta manapun maka kecil kemungkinan
bahwa kehidupan luar Bumi itu telah mencapai suatu tahap peradaban space
travel yang melampaui batas kemampuan manusia saat ini.
Sekalipun para ilmuwan memiliki segudang alasan untuk tidak percaya,
namun mereka tetap membuka peluang adanya bentuk – bentuk kehidupan di luar
sana. Setidaknya sejarah sudah membuktikan bahwa bukankah sejak dulu manusia
senantiasa memimpikan suatu perjalanan ke Bulan. Dan impian itu memerlukan
waktu 10.000 tahun sejak manusia memasuki tahap peradaban sampai akhirnya
berhasil menjejakkan kaki di Bulan. Itu sebabnya para ilmuwan di Amerika
Serikat dan negara maju lainnya terus mengembangkan program penelitian untuk
mencari kemungkinan adanya kehidupan luar Bumi.