Letak daratan Indonesia yang berbatasan langsung dengan 3 lempeng aktif dunia menyebabkan banyaknya jebakan aktivitas magmatis
salah satunya berupa gunung berapi. Kira-kira 179 gunung api yang
terdapat di negeri ini dan 129 diantaranya masih aktif sampai sekarang.
Karena hal inilah maka hampir setiap tahun paling sedikit satu gunung api
melakukan erupsinya. Aktivitas gunung merupakan pencerminan dari aktivitas magma yang terdapat di dalam bumi.
Aktivitas Vulkanik
Aktivitas vulkanik pada umumnya digambarkan sebagai proses yang menghasilkan
gambaran menakjubkan, atau kadang menakutkan dari suatu bentuk struktur
kerucut yang secara periodik melakukan erupsinya. Erupsi dari gunung api
ini kadang –kadang merupakan letusan yang sangat hebat (eksplosif), tetapi
kadang-kadang berlangsung dengan tenang. Faktor utama yang mengontrol
macam erupsi gunung api adalah komposisi magma, temperatur magma dan
kandungan gas yang terdapat dalam magma. Faktor-faktor tersebut sangat
mempengaruhi mobilitas dari magma , atau sering disebut viskositas (kekentalan) magma. Semakin kental magma, semakin sulit magma untuk mengalir.
Faktor utama yang membedakan bermacam-macam batuan beku dan bermacam-macam magma ialah kandungan unsur silika (SiO2). Magma pembentuk batuan beku basaltik mengandung kira-kira 50% silika. Batuan beku granitik mengandung sekitar 70% silika, sedang batuan beku menengah mengandung sekitar 60% silika.
Jadi dapat dikatakan bahwa viskositas magma sangat berhubungan dengan kandungan silikanya. Semakin tinggi kandungan silikanya, maka magma semakin viskos dan aliran magma akan semakin lambat. Hal ini disebabkan karena molekul-molekul silika terangkai dalam bentuk rantai yang panjang, walaupun belum mengalami kristalisasi. Akibatnya, karena lava basaltik mengandung silika yang rendah, maka lava basaltik cenderung bersifat encer dan mudah mengalir, sedangkan lava granitik relatif sangat kental dan sulit mengalir walaupun pada temperatur tinggi.
Kandungan gas dalam magma juga akan berpengaruh terhadap mobilitas dari
magma. Keluarnya gas dari magma menyebabkan magma menjadi semakin
kental. Keluarnya gas ini dapat pula menyebabkan tekanan yang cukup kuat
untuk keluarnya magma melalui lubang kepundan. Pada waktu magma
bergerak naik ke atas mendekati permukaan pada gunung api, tekanan pada
bagian magma yang paling atas akan berkurang. Berkurangnya tekanan akan
mengakibatkan lepasnya gas dari magma dengan cepat.
Pada
temperatur tinggi dan tekanan yang rendah, memungkinkan gas untuk
mengembangkan volumenya sampai beberapa kali dari volumenya mula-mula.
Magma basaltik yang kandungan gasnya cukup besar, memungkinkan
gas tersebut untuk keluar melalui lubang kepundan gunung api dengan
relatif mudah. Keluarnya gas tersebut dapat membawa lava yang
disemburkan sampai bermeter-meter tingginya. Sedangkan pada magma yang
kental, keluarnya gas tidak mudah, tetapi gas tersebut akan berkumpul
pada kantong-kantong dalam magma yang menyebabkan tekanan meningkat
besar sekali. Tekanan yang besar ini akan dikeluarkan dengan letusan
yang hebat dengan membawa material yang setengah padat dan padat melalui
lobang kawah gunung api. Jadi besarnya gas yang keluar dari magma akan
sangat mempengaruhi sifat erupsi gunung api.


