Jumat, 28 Maret 2014

Pemanasan Global Memang Nyata

Sebentar lagi kita memperingati Hari Bumi setiap 22 April untuk kembali diingatkan tentang perlunya menyelamatkan bumi kita. Untuk renungan bersama, coba kita lihat fakta seperti apa pemanasan global yang terjadi saat ini. Pemanasan global (global warming) sering kita dengar dan sering dipersalahkan sebagai penyebab perubahan iklim yang terkait dengan bencana meteorologis. Sebenarnya yang kita nilai sebagai bencana hanyalah cara alam mengembalikan kesetimbangan karena adanya ketidakstabilan, sebagian besar karena ulah manusia (antropogenik).

 

Emisi karbon dioksida (CO2) dari industri, transportasi, dan kegiatan rumahtangga terus meningkat dan hutan-hutan sebagai penyerap CO2 makin gundul. Bumi hanya melaksanakan sunatullah (hukum alam) bahwa kandungan CO2 yang makin tinggi akan menyebabkan panas di bumi akan tertahan di atmosfer.  Ya, bumi akan makin panas. Itulah yang dikenal sebagai pemanasan global atau global warming.

Kita tahu, sumber utama energi di bumi adalah radiasi matahari. Pemanasan oleh matahari yang secara reguler berpindah ke utara-selatan menyebabkan perubahan pola pemanasan yang berkait dengan pola angin dan curah hujan.  Itulah perubahan musim. Namun dengan adanya panas yang terperangkap di atmosfer akibat pemanasan global, pola dinamika atmosfer itu menjadi berubah. Alam membuat kesetimbangan baru. Bukan lagi keteraturan yang biasa kita alami, ada anomali  (penyimpangan).

Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan

Matahari atau bulan kadang-kadang tampak gelap sebagian atau seluruhnya. Ketampakan gelap di matahari itu di sebut gerhana matahari. Sedangkan gerhana bulan adalah ketampakan gelap di bulan saat purnama. Kita sudah mengetahui bahwa bumi mengitari matahari. Sementara itu bulan mengitari bumi. Akibatnya bulan kadang-kadang berada di antara matahari dan bumi. Pada saat lain bumi yang berada di antara matahari dan bulan.

Solar Eclipse-APOD-NASA

Ketika bulan berada di antara matahari dan bumi, ketiganya belum tentu segaris. Bulan mungkin berada lebih ke Selatan, mungkin pula lebih ke Utara dari garis hubung antara matahari dan bumi. Bila suatu saat bulan berada tepat segaris  di antara matahari dan bulan, bulan akan menghalangi cahaya matahari yang menuju beberapa daerah di permukaan bumi. Ini menyebabkan terjadinya gerhana matahari. Tidak semua wilayah di permukaan bumi yang bisa mengamati gerhana tersebut. Hanya daerah yang tergelapi oleh bayangan bulan itu yang akan melihat gerhana matahari.

Solar Eclipse - Espenak
(Skematik gerhana matahari, gambar dari NASA)

Kamis, 27 Maret 2014

Sistem Magnitudo Bintang

Ketika kita melihat langit malam, akan kita dapati bermacam benda langit yang terangnya berbeda-beda. Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui perbandingan terang antara objek yang satu dengan yang lain? Di astronomi, kecerlangan benda langit dinyatakan dengan skala magnitudo. Dengan sistem ini juga, kita dapat menghitung perbandingan kecerlangan dua benda langit yang berbeda. Lalu bagaimana sistem magnitudo ini bekerja?

Jaman dahulu ketika belum ada listrik dan lampu, penduduk/perumahan belum banyak, lingkungan sekitar tidaklah seterang sekarang. Malam hari menjadi sangat gelap sehingga langit malam tampak lebih indah karena tidak ada polusi cahaya. Ketika cuaca cerah, orang dapat menikmati hiburan yang menakjubkan di layar lebar langit malam. Ribuan bintang, nebula dan gugus bintang yang terlihat sebagai awan kabut kecil, dan pita putih Bima Sakti, menghiasi angkasa. Sejarah ditemukannya sistem magnitudo untuk menentukan kecerlangan bintang dimulai dari kondisi seperti itu. Banyak yang bisa dilakukan dengan langit pada saat itu.
Sekitar tahun 150 SM, seorang astronom Yunani bernama Hipparchus membuat sistem klasifikasi kecerlangan bintang yang pertama. 



Saat itu, ia mengelompokkan kecerlangan bintang menjadi enam kategori dalam bentuk yang kurang lebih seperti ini: paling terang, terang, tidak begitu terang, tidak begitu redup, redup dan paling redup. Hal tersebut dilakukannya dengan membuat katalog bintang yang pertama. Sistem tersebut kemudian berkembang dengan penambahan angka sebagai penentu kecerlangan. Yang paling terang memiliki nilai 1, berikutnya 2, 3, hingga yang paling redup bernilai 6. Klasifikasi inilah yang kemudian dikenal sebagai sistem magnitudo. Skala dalam sistem magnitudo ini terbalik sejak pertama kali dibuat. Semakin terang sebuah bintang, magnitudonya semakin kecil. Dan sebaliknya semakin redup bintang, magnitudonya semakin besar.

Bagaimanakah Cara Membedakan cahaya Bintang dan cahaya Planet di Malam Hari?

Salah satu obyek paling menarik di langit malam bagi astronom amatir adalah planet-planet besar di tata surya. Paling tidak, ada empat planet utama yang bisa diamati dengan jelas, yakni Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. 
Namun, untuk mengamati planet-planet tersebut, seorang pengamat harus bisa membedakan penampakan planet dan bintang di langit malam. Bagi mata orang awam, seluruh obyek tampak sama, berupa titik cahaya yang bertebaran di langit dan secara umum disamakan sebagai "bintang".
Padahal, ada perbedaan mendasar antara planet dan bintang. Salah satunya, bintang memancarkan cahaya sendiri (Matahari adalah sebuah bintang), sedangkan planet terlihat bercahaya karena memantulkan cahaya Matahari (seperti Bulan). 

CARA Mengukur Jarak Bintang menggunakan metode Paralaks dan dengan Bintang Cepheid

Bagaimanakah sebenarnya para astronom untuk dapat menghitung dan mengetahui jarak diantara benda-benda langit seperti bintang, planet, galaksi, dsb. dengan menggunakan metode penentuan jarak bintang dan objek benda langit lainnya para astronom dapat mengetahui jarak bintang dan benda langit lainnya.

1. Mengukur Jarak Bintang Menggunakan Metode Paralaks

Paralaks adalah perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang diam dilihat dari dua tempat yang berbeda . Kita bisa mengamati bagaimana paralaks terjadi dengan cara yang sederhana. Acungkan jari telunjuk pada jarak tertentu (misal 30 cm) di depan mata kita. Kemudian amati jari tersebut dengan satu mata saja secara bergantian antara mata kanan dan mata kiri. Jari kita yang diam akan tampak berpindah tempat karena arah pandang dari mata kanan berbeda dengan mata kiri sehingga terjadi perubahan pemandangan latar belakangnya. “Perpindahan” itulah yang menunjukkan adanya paralaks.

PENGERTIAN OSEANOGRAFI DAN OSEANOLOGI

Kata Oseanografi di dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata Bahasa Inggris Oceanography, yang merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ocean dan graphy dari Bahasa Yunani atau ―graphein‖ dari Bahasa Latin yang berarti menulis. Jadi, menurut arti katanya, Oseanografi berarti menulis tentang laut.

Selain  Oseanografi  kita  juga  sering  mendengar  kata  Oseanologi.  Kata Oseanologi  di  dalam  Bahasa  Indonesia  adalah  terjemahan  dari  kata  Bahasa  Inggris Oceanology,  yang  juga  merupakan  kata  majemuk  yang  berasal  dari  kata  ocean  dan logia  dari  Bahasa  Yunani  atau  legein  dari  Bahasa  Latin  yang  berarti  berbicara. Dengan demikian, menurut arti katanya, Oseanologi berarti berbicara tentang laut.

Menurut  Ingmanson  dan  Wallace  (1973),  akhiran  grafi  mengandung  arti  suatu proses  menggambarkan,  mendeskripsikan,  atau  melaporkan  seperti  tersirat  dalam  kata Biografi dan Geografi. Akhiran ologi mengandung arti sebagai suatu ilmu (science) atau cabang pengetahuan (knowlegde). Dengan demikian Oseanologi‖ berarti ilmu atau studi tentang laut, sedang Oseanografi berarti deskripsi tentang laut. Meskipun demikian, kedua kata itu sering dipakai dengan arti yang sama,  yaitu berarti sebagai  eksplorasi atau studi ilmiah  tentang  laut  dan berbagai fenomenanya.  Negara-negara  Eropa Timur,  China  dan Rusia cenderung memakai kata Oseanologi, sedang negara-negara Eropa Barat dan Amerika cenderung memakai kata Oseanografi.

Istilah  Hidrografi  yang  berasal  dari  kata  Bahasa  Inggris  Hydrography kadang-kadang  digunakan  secara  keliru  sebagai  sinonim  dari  Oseanografi.  Hidrografi  terutama berkaitan  dengan  penggambaran  garis  pantai,  topografi  dasar  laut,  arus,  dan  pasang  surut untuk penggunaan praktis dalam navigasi laut (Ingmanson dan Wallace, 1985). Oseanografi meliputi  bidang  ilmu  yang  lebih  luas  yang  menggunakan  prinsip-prinsip  fisika,  kimia, biologi, dan geologi dalam mempelajari laut secara keseluruhan.

Kenapa Permukaan Bulan Terlihat Sama di Bumi?

Pernahkah memperhatikan penampakkan bulan? Mengapa muka bulan yang dapat terlihat dari bumi adalah setengah bulatan yang sama saja? Mengapa belahan bulan  lainnya tidak pernah terlihat? Bagaimana pola pergerakan bulan dan hubungannnya dengan penampakkan wajahnya? 
 
 
 
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bulan dikenal sebagai satelit bumi. Satelit artinya pengikut, karena bulan selalu bergerak mengelilingi bumi. Sementara bumi yang merupakan induk  di dalam waktu sama juga bergerak dalam orbitnya mengitari matahari.

Minggu, 27 Oktober 2013

PERBEDAAN SIG MODERN DAN SIG KONVENSIONAL

Berikut ini beberapa perbedaan SIG modern dan SIG konvensional

SIG Modern
  1. Penyimpanan data menggunakan database digital yang baku dan terpadu
  2. Pemanggilan data menggunakan sistem komputer
  3. Pemutakhiran data membutuhkan biaya murah dan dilakukan secara sistematis
  4. Analisis overlay sangat cepat
  5. Analisis spasial dapat dilakukan dengan mudah 
  6. Penayangan murah dan cepat, bisa menggunakan sistem digital
SIG Konvensional
  1. Penyimpanan data menggunakan skala dan standar yang berbeda
  2. Pemanggilan data secara cek manual
  3. Pemutakhiran data membutuhkan biaya mahal dan waktu yang lama
  4. Analisis overlay membutuhkan banyak tenaga dan waktuyang lama
  5. Analisis spasial sangat rumit
  6. Membutuhkan banyak biaya untuk penayangan data
 

Sabtu, 17 Agustus 2013

MEMBUAT PETA LINGKUNGAN SEKITAR ATAU SEKOLAH

Peta yang biasa Anda lihat dan gunakan merupakan hasil pengukuran jarak dan arah pada daerah yang dipetakan. Agar Anda lebih memahami tentang peta, sebaiknya Anda untuk terjun langsung mempraktikannya walaupun masih dengan teknik dan alat yang sederhana. Anda bisa lakukan praktek pemetaan dengan membuat peta lingkungan sekitar atau peta sekolah. Alat yang bisa digunakan adalah kompas untuk pengukuran arah, meteran untuk pengukuran jarak, dan busur untuk menggambarkan arah hasil pengukuran di kertas.

1. Kompas dan cara penggunaannya

Kompas terdiri atas sebuah jarum yang satu ujungnya selalu menunjuk arah utara dan ujung satunya lagi menunjuk arah selatan. Arahkanlah kompas pada suatu objek dan geserlah ke objek lainnya. Apa yang terjadi dengan jarum kompas tersebut? Ya, jarum kompas ikut bergeser juga, bukan? Jarum kompas tersebut selalu menunjuk ke arah utara. Jika kompas digeser ke berbagai arah, maka jarum kompas akan selalu bergerak menuju ke arah utara.

Kompas juga terdiri atas piringan kompas yang di atasnya terdapat angka derajat (0 sampai 360 derajat). Piringan tersebut ikut bergerak seiring bergeraknya jarum kompas. Posisi suatu objek ditentukan dengan melihat angka derajat pada piringan kompas oleh suatu pointer (garis penunjuk). Jika pointer menunjukkan angka 270 derajat, maka posisi benda tersebut sebesar 270 derajat dari utara.

Jumat, 09 Agustus 2013

JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA

1. Tanah Vulkanis

a. Tanah Andosol

  • Proses terbentuknya : dari abu vulkanis yang telah mengalami proses pelapukan
  • Ciri-ciri : warna kelabu hingga kuning, peka terhadap erosi, dan sangat subur
  • Pemanfaatannya : sebagai lahan pertanian, perkebunan, hutan pinus atau cemara
  • Persebaran : Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi
andosol
andosol

b. Tanah Regosol

  • Proses terbentuknya : dari endapan abu vulkanis baru yang memiliki butir kasar
  • Ciri-ciri : berbutir kasar, berwarna kelabu hingga kuning dan kadar bahan organik rendah
  • Pemanfaatannya : untuk pertanian padi, palawija, tebu dan kelapa
  • Persebaran : di lereng gunung berapi, pantai dan bukit pasir pantai yang meliputi pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara

c. Tanah Aluvial (Tanah Endapan)

  • Proses terbentuknya : tanah hasil erosi (lumpur dan pasir halus) di daerah-daerah dataran rendah
  • Ciri-ciri : warna kelabu dan peka terhadap erosi
  • Pemanfaatannya : sebagai lahan pertanian sawah dan palawija
  • Persebaran : Sumatera, Jawa bagian utara, Halmahera, Kalimatan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Papua bagian selatan